religiouscriticism.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore mengalami penurunan akibat aksi ambil untung oleh investor di akhir sesi perdagangan. IHSG ditutup merosot 18,15 poin atau 0,20 persen, berada di level 8.992,17. Sementara itu, indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan justru mengalami kenaikan sebesar 3,69 poin atau 0,42 persen, mencapai 875,10.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mencatat bahwa meskipun IHSG melemah, mayoritas bursa saham Asia justru mencatatkan penguatan. Hal ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa ia tidak akan memberlakukan tarif 10 persen terhadap negara-negara Eropa pada 1 Februari 2026, dan menghindari penggunaan kekerasan untuk isu Greenland. Langkah ini, menurut Ratna, telah meredakan ketegangan antara AS dan Eropa.
Di arena domestik, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk tetap mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen dan keyakinannya untuk melakukan intervensi terhadap nilai tukar Rupiah, dinilai sebagai faktor yang mendukung penguatan Rupiah. Para pelaku pasar kini menantikan rilis data M2 Money Supply untuk bulan Desember 2025, yang diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi likuiditas di dalam negeri.
IHSG yang semula dibuka menguat, berangsur melemah pada sesi kedua perdagangan. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor mengalami penguatan, dengan sektor barang konsumen primer memimpin dengan kenaikan sebesar 1,54 persen, diikuti sektor infrastruktur dan properti yang naik masing-masing 1,44 persen dan 1,00 persen. Pergerakan ini menunjukkan dinamika yang beragam di pasar saham, dengan harapan akan stabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan.