religiouscriticism.com – Pemulihan sektor kelistrikan di Aceh dan Sumatera masih menghadapi berbagai kendala, sebagaimana diungkapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Dalam laporannya, Bahlil menyebutkan permasalahan utama adalah kerusakan infrastruktur serta kesulitan akses akibat bencana yang mengganggu proses pemulihan pasokan listrik, BBM, dan LPG.
Bahlil menjelaskan kapasitas pembangkit listrik di Banda Aceh saat ini mencapai 110 Megawatt (MW), dengan rata-rata beban yang masuk sekitar 66 MW. Meskipun sebagian pasokan masih bergantung pada genset, dia optimis bahwa jaringan induk listrik bisa kembali normal dalam beberapa minggu ke depan. “Jika semuanya berjalan lancar, aliran listrik dari Arun dan Bireuen dapat beroperasi seperti biasa,” ungkapnya dalam Sidang Kabinet di Jakarta pada 15 Desember 2025.
Namun, tantangan lebih lanjut dihadapi dalam distribusi listrik ke desa-desa. Banyak jalan yang tidak dapat dilalui, serta adanya tiang listrik yang roboh dan banjir di beberapa lokasi, yang jika dipaksakan untuk dialiri listrik dapat menimbulkan kecelakaan. Bahlil menekankan pentingnya kehati-hatian dalam penyaluran untuk menghindari risiko bagi masyarakat.
Di samping itu, kondisi pasokan BBM dan LPG di Aceh cukup memprihatinkan, terutama di tiga kabupaten yang hanya dapat diakses melalui udara. Bahlil menuturkan, upaya distribusi dilakukan lewat helikopter dan pesawat Hercules, serta penggunaan jalur darat alternatif, meskipun akses masih sangat terbatas. Untuk daerah lain, seperti Sumatera Barat, kondisi pasokan relatif lebih baik, meski di Sumatera Utara, tantangan utama adalah ketersediaan LPG yang tetap terpengaruh oleh kerusakan infrastruktur.
![Bahlil: Pemulihan Listrik Aceh Terkendala Banjir Berkelanjutan | religiouscriticism.com [original_title]](https://religiouscriticism.com/wp-content/uploads/2025/12/bahlil-Nnsu_large.jpg)